Kamis, 31 Maret 2011

STABILIZATOR

ku kehilangan stabilizatorku !
yang dulu menjadi pembatasku.
pembatas apa yang kuakses, apa yang kulakukan, bagaimana tingkah polahku, bagaimana ku bersikap semata-mata hanya untuk memberi contoh dan "stabilizator"ku bebas meniru apapun yang baik.
dan lihatlah, betapa tidak teraturnya aku saat ini.
sebentar lagi "stabiizator"ku akan benar-benar hilang.
bukan, bukan. dia memang sudah hilang sebelumnya.
sampai aku tak mengenalinya lagi.



menjelang uts jadwal bio & tinkom  31/03/2011 20:43
Lantana Abadi 

Tujuh Belas ?

Semalam, ku tak bisa pejamkan mata. Beberapa saat sebelumnya, cekcokku denganmu. Ya, Aditya Chandra Prasetya. Berawal dari rasa sayang seorang kawanku yang baik, Dita Risnafiani Susanto yang kuanggap sebagai bukti nyata kepeduliannya, rasa mengayominya padaku. Mereka berdua mempermasalahkan seseorang, yang tak lain aku. Jantungku berdebar kencang, setiap ketikan keyboard-ku saat itu sangat ku jaga tutur kata dan bahasanya, ku berusaha tak keruhkan suasana, kewajibanku adalah damaikan mereka. Bagaimanapun, pokok permasalahan mereka adalah AKU. terima kasih untuk rasa sayang dan kepedulian yang membuat aku merasa nyaman sampai saat ku tulis ini (menjelang UTS jadwal Biologi dan Tinkom). Malam itu juga, semua terselesaikan dengan jalan damai, walaupun menyisakan beberapa kepingan kesal yang dirasakan oleh kawanku, Dita.
Keesokan paginya ku bangun terlambat. Hari ini, ku ditugasi menjadi duta sekolah untuk suatu perlombaan. Walaupun berangkat siang tak masalah, tapi Ibuku tercinta menitipkan sesuatu untuk teman-teman satu kelas, "Wujud rasa syukur" menurut beliau.
ku masih tetap santai, karena ku fikir pak Guru akan masuk terlambat atau bahkan tidak masuk (biasanya). Perkiraan yang tak jelas itu meleset! Ku buka pintu kelasku yang tertutup, dan ternyata di pojok kiri rumah keduaku sudah duduk dengan manisnya pak Guru tersebut. 
Begitu ku langkahkan kaki memasuki ruangan yang terasa amat panas jika listrik mati ini, teman-teman serentak menyanyikan sebuah lagu yang membuat saya mendadak bisu dan kesulitan untuk berkata-kata. Yeah! speechless. Setelah lagu selesai dinyanyikan, kucoba untuk utarakan rasa terimakasih untuk teman-teman dengan terbata-bata dan badanku bergetar hebat! Saat kurasa cukup, Ku pamit pada pak Guru yang juga tak ketinggalan turut mendoakanku. Saat ku buka pintu dari dalam, di luar kelas sudah berdiri Ibu Guru pengampuh Mapel Fisika kelasku yang sedang mengajar di kelas sebelah. Beliau turut pula doakanku. Disela-sela ucapan terima kasihku, ku berkata "Bu, hari ini akan saya praktekkan teori yang Ibu berikan,  Gerak Melingkar yang akan saya kolaborasikan dengan Titik Berat. Wish me luck, Mom". Beliau tersenyum dan mengangguk. Ku cium punggung tangannya dan ku permisi.
Baru beberapa langkah ku tinggalkan tempat tadi, seseorang memanggilku. Mendekat dan menawarkan diri membawakan tas yang setia menglingkar di pundakku, ku tolak dan kami menuju medan perang. Awalnya  ku kaget, jelas. Laki-laki ini keluar dari KBM, berniat menemaniku. Sepanjang jalan dan sampai saat ku akan mulai berperang kami membicarakan entah apa, dari A-Z. Setelah menuntaskan tugasku dan mendapatkan hasil yang optimal, maklum ini pertama kalinya untukku, dan ternyata prediksi guru pembimbingku tak meleset. Beliau memprediksi ku kan dapatkan 2 medali, benar. 2 medali perak ku persembahkan untuk sekolah yang awalnya amat kubenci ini, menyusul 1 medali perak yang juga ku persembahkan untuk sekolah beberapa hari sebelumnya. Setelah itu kami kembali ke sekolah, sudah setengah hari ku bersamanya, seseorang yang membuatku berdebar semalam.
Kelas mendadak ramai, mereka terkejut. Ya, memang sebelumnya belum ada yang mengetahiu kedekatan aku dengannya, (laki-laki yang semalam membuatku galau hebat) kecuali beberapa teman dekatku. Sontak kumendadak seperti artis yang diwawancarai para wartawan yang brutal (hehehe). Banyak pertanyaan yang ku jawab cukup dengan "Tanya aja sama orangnya". Sempat ada yang meminta maaf karena sesuatu hal, namun bagiku itu wajar, mereka tak tahu apapun tentang ini sebelumnya. Disinilah awal cerita baru yang telat disaksikan oleh teman-teman.
Allah mendengar doaku semalam, kupinta tak ada yang membuatku sedih di hari jadiku, dan Allah mengabulkannya. Tak ada KBM di kelasku setelah ku pulang kembali ke sekolah.
Sebuah kejutan ternyata telah dipersiapkan oleh ke-empat kawanku, Nurhikmah Azizah, Indri Apriastuti, Dita Risnafiani, dan Nuring Nafisah. Mereka bersama beberapa teman lainnya berhasil membuatku kembali tersenyum lebar di hari dimana tepat tahun ke tujuh belasku semenjak ku dilahirkan. Setelah kami habiskan kue Tart, ku pulang dalam keadaan "sedikit" basah. Esok ku masih mengemban tugas sekolah, pikirku.
Ternyata tak sampai disitu. Setelah ku sampai di rumah dan sejenak beristirahat, seorang ibu yang mengaku kaum papa datang, ku keluar dan memberikan sedikit uang kepadanya. Disitulah ku menyadari, ada sebuah bungkusan plastik berwarna putih di teras rumah.
Kuambil dan kulihat, plastik tersebut berisi satu buah kue Tart yang bertuliskan nama lengkapku dan sebuat kotak kecil lagi yang berisikan sebuah kalung yang terukirkan "nawspy" yang mana merupakan id ku. Ku faham betul siapa yang mengirimkan, yang ku sayangkan, mengapa tak secara langsung? Tapi ya sudahlah, mungkin juga karena kesalahanku sebelumnya. Tak lupa ku ucapkan banyak terima kasih, lewat pesan singkat. Dan dia beberapa kali mengelak. Kiriman itu juga membuatku berdebar-debar, separah itukah salahku? Tapi ku bersyukur, dia masih mengingatku. :)
Hampir satu bulan setelah 17 tahunku. Kejutan datang dari sahabat-sahabat gilaku.
Sebuah hadiah dari 10 orang makhluk yang hampir selalu membuat aku meringis aku terima.
Ayu La Haura, Hana Syifa, Arivia Ulliaji, Oriza Wahyu Utami, Putri Lalita, Nurul Alfiah Alsalamah, Annisa Pujisari, Muthia Riefka, Cindy Dwi Primasanti, Bella Mulidya memang kocak, sungguh!
Ku bisa senyum tak jelas mengingat tingkah polah mereka yang memang selalu membuat ku bahagia bila di dekat mereka.
Dan mereka benar-benar membuat 17 tahunku benar-benar patut untuk dikenang.
Thanks For All :)

Kamis, 24 Februari 2011

Laporan Praktikum Pernafasan Serangga


I. TITLE: BREATHING IN INSECT.


II. PURPOSE OF EXPERIMENT: Watching breathing in insects.


III. BASIS OF THEORY:
Breathing means carry out gas exchange, ie: take the oxygen (O2) and remove carbon dioxide (CO2). O2 with CO2 gas exchange can take place through a process of diffusion. In animals there is a small ratio between body surface area to volume is large enough so that it can carry out gas exchange and adequate to meet their needs. This can be done by way of diffusion through the exchange of body. But in large animals, especially in active animals, the ratio between the area of the body volume is too small to do the same, therefore we need a special body surface to breath, to catch melepaska O2 and CO2. These tools can be either gills or lungs or airways (trachea) or other forms of exchange that can carry O2 with CO2. Oxygen or oxygen is a chemical element in the periodic table that has a system symbol O and atomic number 8, he is a class element chalcogens and can easily react with almost all other elements. In tempratur and standard pressure, these elements bind two atoms into oxygen, which is senywa diatomic gas with the formula O2 colorless, tasteless, and odorless
According logler (1977) oxygen consumption can be influenced by several factors, namely:
• The intensity of oxidative metabolism in cells
• The speed of exchange which controls the movement of water around the gills which diffuses through
• internal factor is the speed of blood circulation and blood volume that was brought to the gills
• oxygen affinity of hemoglobin.



Insects are terrestrial animals that do not have lungs but using tracheal system for gas exchange. The skin on insects located on both sides of the thorax and abdomen, have sederatan lungs or also called spiracles, which is arranged on each segment and relate to the channel system valve or protected tracheal spiracles hairs to prevent excessive evaporation through these pores.
The trachea is made up with regular, partly walking and partly longitudinal tranpersal. The diameter of the trachea which revolves around 1mm and always open with a thickening of the spiral-shaped and circular, formed of hard chitin, is an ingredient that is also found on the cuticle (Darmadi Goenarso, 2005)
The trachea is invaginasi (indentation into) from the ectoderm and generally have exit holes, called spiracles. The shape of a cylindrical vessel that has a layer of chitin (chitin).
Chitin layer has thickened like a spiral. There are a pair of spiracles for each segment of the body sometimes has a valve to keep water evaporation. The trachea has branches and branches that penetrate the smallest diameter of a network called trakeolus with 1-24. Trakeolus do not have chitin layer and formed by cells called trakeoblas, trakeolus in insects tip clogged and filled with air or sometimes filled with fluid.
Tools of tracheal respiration in insects, udar enter and exit through holes called spiracles wrinkle or stigma that is located on either side of her body. From the air stigma continue to enter the trachea vessels elongate and partly to smooth the incoming air sacs throughout the body tissue.
In the tracheal system is the transport of oxygen and carbon dioxide does not require the help of transportation systems, especially blood.
The function of spiracles and trachea to allow passage of air kepercabangan trakeol channel called, which is a soft intracellular channel with a diameter of about 1μm. There are huge numbers and were in various tissues, especially muscle. Unlike trakease, soft channels are not coated with a cuticle, gas exchange occurs easily through the walls of this channel. Respiratory system in insects through a number of branching airways in the tracheal system. Oxygen is taken directly to the network, so it is not carried through the bloodstream. Distribution of oxygen and carbon dioxide spending is not done through the circulatory system. In most insects by diffusion alone is fulfilled and therefore the body of insects are generally small berukurab. In some species, this diffusion is assisted by thoracic atauabdomen ritmiks movement.


How to draw air (ventilsi) such that, on the locust spiracles open and close alternately, so that air can enter the body through the thoracic spiracles and exit the body through the abdominal spiracles. In addition, insects can control the rate of entry of oxygen to the tissues. If an increase in muscle (when flying) will occur in the tissues of lactic acid buildup. As a result, osmotic pressure of tissue fluid increases so that the fluid in trakeol absorbed in, so that the airway more freely reach the network and the diffusion of oxygen to the tissues faster.

There are three phases of the respiratory movements of insects, namely:
• Inspiration approximately ¼ second, at the beginning of the inspiration valve open spiracles
• Phase exchange for 1 seconds, both spiracles on the thorax or abdomen close
• Phase ekspirase, and abdominal spiracles open

Air enters the tracheal system of the face on the inspiration and moving backwards during the phase of gas exchange and on the 3rd phase of the air out of the posterior spiracles. Opening and closing spiracles controlled by the nervous system.

Tracheal system functions to transport O2 and distribute them throughout the body and vice versa transporting CO2 to dikelurkan respiration results from the body. And the blood on the insect only functions to transport nutrients and not to transport respiratory gases. At the end there is a liquid so that air trakeolus easily diffuse into the network. In aquatic insects mosquito larvae air was obtained with breathing tubes sticking surface of the water to air, some aquatic insects have air bubbles in the hair-like organs on the ventral surface. During the dive, karbondiksida in bubbles moved through the system of the trachea to the respiratory cells. Also adapula melelui air capture insects that branches should be similar next gills of these fine branches oxygen circulate through the vessels in the trachea.

One of the factors that support a high metabolic rate, is that the flight muscle cells mitochondria and pipes wrapped with trake have sufficient oxygen for each of these organelles that generate ATP.


IV. EQUIPMENT AND MATERIALS:

Tools:
 respirometer
Ø
 Cotton
Ø
 Pipette
Ø
 Stop / Watch
Ø
 Balance
Ø

Material:
 Insects (grasshoppers)
Ø
 KOH / NaOH Crystals
Ø
 vaseline
Ø
 Eosin
Ø



V. HOW TO WORK:

1. Weigh heavy insects, record the result
2. Wrap KOH / NaOH crystals by using cotton and enter in the respirometer using tweezers ecara heart - heart
3. Enter respirometer insects and close connections with members vaseline on the cover for outside air does not enter into the respirometer
4. Rspirometer ends used as drops using a pipette with eosin
5. Observe the movement of eosin on pipe scale and in a safe in observation table
6. Perform the same steps to weight the different insect





VI. RESULTS OF OBSERVATIONS:

Type of Animals animal's body weight (g) Scale eosin position every 2 minutes
1 2 3 4 Average
Grasshopper 6.5 grams 2.3 4.6 6.6 8.4 5.475



VII. DISCUSSION:
Simple respirometer is a device that can be used to measure the speed of breathing some kind of living organisms such as insects, flowers, roots, fresh sprouts. If no changes are beraarti temperature, respiratory rate can be expressed in ml / sec / g, which is the number of oxygen used by creatures experiment every 1 gram of weight per second. This tool works on a principle that in there breathing oxygen used by organisms and there is carbon dioxide released by him. If breathing organism that is stored in an enclosed space and the carbon dioxide released by the organisms in a closed room tied, then the air shrinkage will occur. Shrinkage velocity air in the room can be recorded (observed) in the capillary tube scale.
The working principle respirometer used for measuring the oxygen consumption rate of animals such as frogs or mice. This tool consists of syringe, manometer, tubes for specimen and control tube. Specimen tube, capillary tubes, valves 3-way syringe inlet outlet, specimen tube, and manometer tube dick.
Cotton small tube inserted into the specimen and drops with 20% KOH solution until saturated, after which the wire mesh tube is inserted into the specimen, then the animal experiments that have entered the weight into it as well. After that the movement of the position of iodine solution can be observed and recorded. The function of the KOH solution is to bind the CO2, so prgerakan of iodine solution is really only due to oxygen consumption.

The reaction between KOH with CO 2 is as follows:
KOH + CO2 K2CO3 + H2O. Some factors that affect the rate of oxygen, are:
• Tempratur • Activities
• Species of animals • body size
Differences of this type of course lead to differences in oxygen consumption rate, because of differences in the type of course, means different morphological characters such as body size, and activities conducted by masig each animal. However the literature indicates something about the rate of oxygen consumption that is that temperature affects the amount of oxygen consumption rate it is due to van't Hoff law. Funnel air (trachea) is a respiratory equipment owned by the insects and other arthropods. Tracheal tubes comes down to a small hole in the outer skeleton (exoskeleton), called spiracles. Spiracles layered cylindrical-shaped vessels substance chitin, and is located in pairs on each body segment. Spiracles have a valve which is controlled by the muscles that open and close the spiracles occur regularly. In general, insect spiracles open during flight, and closed when the insects rest.
Oxygen from the outside in through the spiracles. Then the air from the spiracles to the blood vessels and subsequent tracheal tracheal vein branched more into fine branches called trakeolus so it can reach all tissues and inner organs. Trakeolus no chitin-coated, filled with fluid, and is formed by cells called trakeoblas. Gas exchange occurs between trakeolus with the body's cells. Trakeolus has the same function as capillaries on the transport system (transport) in vertebrates. The mechanism of breathing in insects, eg locusts, are as follows: If your stomach muscles to contract the locust mexrupih trachea so that air is rich coz out. Conversely, if the locust abdominal muscle relaxation, the trachea is back on its original volume so that the air pressure becomes smaller than the pressure outside as a consequence-rich air outside the entrance to the trachea 02. OZ tracheal system functions to transport and distribute them throughout the body, and vice versa transporting respiratory bacillus C02 is exhaled from the body. Thus, the blood on the insect only functions to transport nutrients and not to transport respiratory gases. At the end there is a liquid so that air trakeolus easily diffuse into the network. In aquatic insects like mosquito larvae air obtained with the breathing tube stuck into perxnukaan water to take the air.

Certain aquatic insects have air bubbles so that they can dive in the water for a long time. For example, ladybugs Notonecta sp. have air bubbles in the hair-like organs on the ventral surface. During the dive, O2 in the bubble moved through the trachea to the respiratory cells. In addition, there are also insects that have tracheal gills that function to absorb air from water, or the taking of air through the branches of a similar fine gill. Furthermore, this delicate branch of oxygen was circulated through the vessels of the trachea.


VIII. QUESTION:

1. What caused the shift eosin in this experiment?
Answer: because the respiration process occurs in grasshopper
2. Is there a relationship between insect weight with respiratory rate? Explain!
Answer: There are, the more weight the insect the faster breathing in insects (grasshoppers). Conversely, the lighter body of the insect, the slower the respiration in insects (grasshoppers).
3. What is the function of KOH / NaOH in the experiment?
Answer: The function of KOH / NaOH in the above experiment is to accelerate the process of breathing in the locust.



IX. CONCLUSION:
Based on observations and discussions can be deduced that the KOH / NaOH to help speed up the process of breathing in the locust, and there is a link between heavy breathing searangga with speed, The grasshopper's body weight, the more oxygen is needed so that the more rapid breathing. Conversely, more light weight then fewer and fewer insects also oxygen he needs so that the slower breathing.

Jumat, 04 Februari 2011

Surga di Telapak Kaki Ibu

Surga di Telapak Kaki Ibu
Penulis : Andrie Wongso

Alkisah, seorang pemuda sedang melamar pekerjaan di sebuah perusahaan besar. Dia sudah berhasil lolos di tes-tes pendahuluan. Dan kini tiba saatnya dia harus menghadap kepada pimpinan untuk wawancara akhir.


Setelah melihat hasil tes dan penampilan si pemuda, sang pemimpin bertanya, "Anak muda, apa cita-citamu?"


"Cita-cita saya, suatu hari nanti bisa duduk di bangku Bapak," jawab si pemuda.


"Kamu tentu tahu, untuk bisa duduk di bangku ini, tidak mudah. Perlu kerja keras dan waktu yang tidak sebentar. Betul kan?" Si pemuda menganggukkan kepala tanda setuju.


"Apa pekerjaan orangtuamu?" lanjutnya bertanya.


"Ayah saya telah meninggal saat saya masih kecil. Ibulah yang bekerja menghidupi kami dan menyekolahkan saya."


"Apakah kamu tahu tanggal lahir ibumu?" kembali sang pimpinan bertanya.


"Di keluarga kami tidak ada tradisi merayakan pesta ulang tahun sehingga saya juga tidak tahu kapan ibu saya berulang tahun."


"Baiklah anak muda, bapak belum memutuskan kamu diterima atau tidak bekerja di sini. Tetapi ada satu permintaan bapak! Saat di rumah nanti, lakukan sebuah pekerjaan kecil yaitu cucilah kaki ibumu dan besok datanglah kemari lagi."


Walaupun tidak mengerti maksud dan tujuan permintaan tersebut, demi permintaaan yang tidak biasa itu, dia ingin mencoba melakukannya.


Setelah senja tiba, si pemuda membimbing ibunya duduk dan berkata, "Ibu nampak lelah, duduklah Bu, saya akan cuci kaki ibu."


Sambil menatap takjub putranya, si ibu menganggukkan kepala. "Anakku, rupanya sekarang engkau telah dewasa dan mulai mengerti."


Si pemuda pun mengambil ember berisi air hangat, kemudian sepasang kaki ibunda yang tampak rapuh, berkeriput, dan terasa kasar di telapak tangannya itu mulai direndam sambil diusap-usap dan dipijat perlahan. Diam-diam airmatanya mengalir perlahan.


"Ibu, terima kasih. Berkat kaki inilah ananda bisa menjadi seperti hari ini."


Mereka pun saling berpelukan dengan penuh kasih dan kelegaan.


Dan keesokan harinya, sang pemimpin berkata, "Coba ceritakan, bagaimana perasaanmu saat kamu mencuci kaki ibumu."


"Saat mencuci kaki ibu saya, saya mengerti dan menyadari akan kasih ibu yang rela berkorban demi anaknya. Melalui kaki ibu saya, saya tahu, bahwa saya harus bekerja dengan sungguh-sungguh demi membaktikan diri kepada ibu saya."


Mendengar jawaban si pemuda, akhirnya sang pemimpin menerima dia bekerja di perusahaan itu. Karena sang pemimpin yakin, seseorang yang tahu bersyukur dan tahu membalas budi kebaikan orangtuanya, dia adalah orang yang mempunyai cinta kasih. Dan orang yang seperti itu pasti akan bekerja dengan serius dan sukses.


Netter yang Luar Biasa!


Pepatah "surga di telapak kaki ibu" sungguh mengandung makna yang sangat dalam. Memang kasih ibu tiada tara. Saya yakin! Jika kita mendapatkanrestu, apa lagi didukung oleh doa ibunda, tentu semua itu merupakan dukungan yang mengandung kekuatan luar biasa, yang memungkinkan apapun yang kita lakukan akan mendatangkan hasil yanglebih baik.


Mari, selagi orangtua kita masih hidup: beri perhatian, layani mereka dan cintai mereka dengan setulus hati.


Salam sukses, Luar Biasa!

*Ridhonya Allah adalah Ridhonya Orang Tua, jika ingin Sukses Berbaktilah kepada ke-2 Orang Tua, dan banyak2 minta doa ke Orang Tua..

Belajar Dari Semut

Pepatah “dimana ada gula, di situ ada semut” agaknya kurang tepat. Kenapa?
Karena semut
tetap hadir dimana-mana dengan aktif meski ada gula atau tidak.

Walaupun kecil, tapi

banyak hal positif yang dapat kita pelajari lewat perilaku dan kebiasaan

semut yang bisa kita jadikan sebagai pedoman untuk memperbaiki pola

kebiasaan hidup kita.



1. Semut tidak pernah

putus asa.

Cobalah bentangkan tangan untuk menutup jalan yang dilalui semut. Semut

tidak akan putus asa, apalagi berhenti, tapi terus berjalan mencari

rute lain.

Semut tidak takut, ragu, khawatir dan bimbang.

2. Semut rajinnya luar biasa.

Pernahkah melihat semut tidur-tiduran ataupun santai? Semut selalu

rajin, aktif bekerja mengangkut makanan. Kerja sudah menjadi bagian

penting dari hidup semut.

3. Semut itu kuat.

Semut sanggup mengangkat beban yang jauh lebih besar dari tubuhnya.

Semut tidak mengeluh atau bersungut-sungut, tidak patah semangat,

apalagi menyerah.

4. Semut berjiwa sosial.

Apa yang dilakukan semut ketika makanan yang hendak diangkut terlalu

berat? Mereka akan bahu-membahu dan tolong-menolong untuk mengangkatnya

bersama-sama.

5. Semut cepat melihat peluang.

Betapa cepatnya semut hadir ketika dia mengetahui ada peluang untuk mendapatkan makanan. Semut tidak akan menyia-nyiakannya.



Mari

belajar dari semut dan terus mengembangkan kebiasaan maupun kinerja dan pola hidup positif dan benar agar kinerja dan hidup kita menjadi lebih baik lagi.

Minggu, 14 November 2010

apa kabarmu dik?

apa kabarmu dik?
lama tak jumpa..
lama tak ada kabar berita..
namun ku harap kamu baik-baik saja
.
apa kabarmu dik?
semoga kesedihan tak lagi menjadi teman..
semoga kelabu masa lalu
tak halangi bahagiamu.

apa kabarmu dik?
ada berita kamu tak lagi sendiri..
ada kabar kamu telah memulai "hidup baru" lagi.

apa kabarmu dik?
semoga kamu bahagia kini
kuharap kamu bahagia kini
semoga kamu bahagia sampai nanti.

apa kabarmu dik?
lama tak jumpa
lama tak ada kabar berita
mungkin tak akan pernah sampai kata-kata ini padamu
entah kapan lagi kita dapat "bertemu"
tapi doa dan harapanku
selalu ada untukmu

Selamat menempuh "hidup baru" dik
semoga bahagia sampai nanti.

Landasan Teori Buat Praktikum Kontraksi & Mekanisme Otot

Otot merupakan suatu organ yang sangat penting bagi tubuh, karena dengan otot tubuh dapat berdiri tegak. Otot merupakan suatu organ atau alat yang memungkinkan tubuh agar dapat bergerak. Otot merupakan alat gerak aktif, ini adalah suatu sifat yang penting bagi organisme. Sebagaian besar otot tubuh melekat pada kerangka, yang menyebabkan dapat bergerak secara aktif sehingga dapat menggerakkan bagian-bagian kerangka dalam suatu letak yang tertentu.  Otot  merupakan  sebuah  alat  yang  menguasai  gerak  aktif  dan memelihara sikap tubuh. Dalam tubuh terdiri dari bermacam-macam jenis otot serta mempunyai sifat dan cara kerja sendiri-sendiri, untuk saling menujang agar dapat bergerak (Hickman, 1996).

Menurut Ville et al. (1988), otot adalah sistem biokontraktil dimana sel-sel atau bagian dari sel memanjang dan dikhususkan untuk menimbulkan tegangan pada sumbu yang memanjang. Otot merupakan jaringan umum pada tubuh kebanyakan binatang yang terbuat dari sel panjang atau benang-benang khusus untuk kontraksi. Hal itu menyebabkan adanya pergerakan dari tubuh dan bagian kerja otot adalah voluntari (dibawah kontrol kesadaran) atau involuntari (tidak dibawah kontrol atau keinginan). Struktur otot adalah halus (benang tanpa lurik) atau lurik (benang serat lintang). Ada 3 jenis jaringan otot yaitu involuntari lurik atau kardiak (jantung) dan voluntari lurik atau otot rangka badan. Struktur untuk melakukan aksi pada hewan baik dari dalam maupun dari lingkungan luar disebut efektor.

Efektor yang paling penting adalah yang mengekresikan zat-zat kelenjar dan melakukan gerak. Bagian efektor yang paling penting untuk menciptakan gerak adalah otot. Jadi, otot adalah sistem biokontraksi dimana sel-sel atau bagian  sel  mengalami  pemanjangan  dan  dikhususkan  untuk  menimbulkan gerakan (kontraksi pada sumbu yang memanjang). Karakteristik dari otot antara lain membangun otot rangka, dapat berkontraksi dan berkonduksi, terdiri dari sel bentuk memanjang, pipih myofibril dan berasal dari lapisan mesoderm. Secara garis besar sel otot dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu:
1. Otot motoritas, disebut juga  otot serat lintang  (otot lurik) oleh  karena didalamnya protoplasma mempunyai garis-garis melintang. Umumnya otot ini melekat pada kerangka sehingga disebut juga otot kerangka. Otot ini dapat bergerak menurut kemauan (otot sadar), pergerakkanya cepat tetapi cepat lelah, rangsangan ini dialirkan melalui saraf motorik.
2.Otot otonom, disebut juga otot polos karena protoplasmanya licin tidak mempunyai garis melintang. Otot ini terdapat pada alat-alat dalam seperti ventrikulus,  usus,  kandung  kemih,  pembuluh  darah  dan  lain-lain,  cara kerjanya diluar kesadaran (otot tak sadar) oleh karena rangsangannya melalui saraf otonom.
3.Otot jantung, bentuknya menyerupai otot serat lintang, didalam sel protoplasmanya terdapat serabut-serabut melintang yang bercabang-cabang tetapi jika kita melihat fungsinya seperti otot polos, dapat bergerak sendiri secara otomatis karena mendapat rangsangan dari susunan saraf otonom. Otot ini hanya terdapat pada jantung yang mempunyai fungsi tersendiri
(Bevelander and Ramaley, 1979).

Otot rangka adalah masa otot yang bertaut pada tulang yang berperan dalam menggerakkan tulang-tulang tubuh. Otot rangka dapat dijelaskan lebih dalam  misalnya  dengan  mempelajari  otot  gastroknemus  pada  katak.  Otot gastroknemus katak banyak digunakan dalam percobaan fisiologi hewan. Otot ini lebar dan terletak di atas fibiofibula, serta disisipi oleh tendon tumit yang tampak jelas  (tendon  achillus)  pada  permukaan kaki.  Mekanisme  kerja  otot pada dasarnya melibatkan suatu perubahan dalam keadaan yang relatif dari filamen-filamen aktin dan miosin. Selama kontraksi otot, filamen-filamen tipis aktin terikat pada dua garis yang bergerak ke pita A, meskipun filamen tersebut tidak bertambah banyak. Namun, gerakan pergeseran itu mengakibatkan perubahan dalam penampilan sarkomer, yaitu penghapusan sebagian atau seluruhnya garis H. selain itu filamen miosin letaknya menjadi sangat dekat dengan garis-garis Z dan pita-pita A serta lebar sarkomer menjadi berkurang sehingga kontraksi terjadi.  Kontraksi  berlangsung  pada  interaksi  antara  aktin  miosin  untuk membentuk komplek aktin-miosin (Hickman, 1996).

Serabut otot secara individu merupakan satuan struktural otot kerangka sehingga bukan merupakan satuan fungsional. Semua neuron motor yang menuju otot kerangka mempunyai akson-akson yang bercabang, masing-masing berakhir dalam sambungan neuromuskular dengan satu serabut otot. Impuls
 syaraf yang  melalui neuron dengan demikian akan memicu kontraksi dalam semua serabut otot yang dapat dikendalikan dengan amat tepat, ukuran satuan motornya kecil (Kimball, 1988).

Respon suatu serabut tunggal itu menyeluruh atau tidak sama sekali, tetapi seluruh otot tidak berperilaku dalam cara ini sehingga memungkinkan untuk mengkontraksikan suatu otot pada tingkat apapun yang diinginkan dari relaks sampai kontraksi yang maksimal. Hal ini dapat dilihat pada percobaan praktikum yaitu merangsang  otot gastroknemus  dari  seekor katak dengan stimulator listrik dan mengukur banyaknya kontraksi seluruh otot. Kekuatan kontraksi seluruh otot meningkat dengan meningkatnya jumlah serabut individu yang berkontraksi. Jadi pada hewan yang utuh, kekuatan respon muskular itu dikendalikan oleh jumlah satuan motor yang diaktifkan oleh sistem saraf pusat (Kimball, 1988).

Menurut Guyton (1995), sebuah otot akan berkontraksi sangat cepat bila kontraksi  penuh  kira-kira  0,1  detik  untuk  rata-rata  bobot.  Keadaan  ini menyebabkan  amplitudo  menjadi  maksimal,  dimana  dipengaruhi  juga  oleh voltase yang digunakan, tetapi bila diberi beban kecepatan kontraksi menurun
 secara progesif dan amplitudo juga menurun. Apabila beban meningkat sampai dengan kekuatan maksimum yang digunakan otot tersebut, maka kecepatan kotraksinya menjadi nol dan tidak terjadi kontraksi sama sekali, walaupun dilakukan pengaktifan pada serabut otot.

Percobaan yang dilakukan menggunakan otot gastroknemus karena otot tersebut peka terhadap rangsangan listrik. Cairan dan ion-ion yang ada pada otot gastroknemus selalu dijaga, pada praktikum ini digunakan larutan ringer. Larutan ringer juga digunakan sebagai penghantar aliran listrik.  Alat yang digunakan pada praktikum pengukuran kontraksi otot gastroknemus universal kimograf beserta  asesorinya  fungsi  alat  ini  adalah  untuk  mengetahui  pengaruh rangsangan listrik terhadap kontraksi otot gastroknemus.

Dalam percobaan ini tegangan berarti impuls atau rangsangan dan amplitudo merupakan besarnya otot gastronekmus terhadap rangsangan. Menurut Storer (1961), menyatakan, ketika rangsangan elektrik dimulai dari yang lemah maka hasilnya akan lemah, selanjutnya peningkatan akan menghasilkan kontraksi yang besar sehingga menimbulkan sebuah titik dimana rangsangan makin besar dan tidak menghasilkan efek. Hasil percobaan juga menunjukan bahwa semakin berat beban maka nilai amplitudonya akan semakin kecil.
Menurut Syarif (2006), kimograf adalah alat untuk pembelajaran dan penelitian kontraksi otot dan biasanya menggunakan otot gastroknemus katak. Otot yang mengalami pemendekan pada pembarian beban yang konstan (tidak ada perubahan pada tekanan) dinamakan kontraksi isotonik. Sedangkan bila otot menghasilkan tekanan tetapi tidak mengubah panjang otot dinamakan kontraksi isometrik.

Voltase  yang  diberikan  terhadap  otot  akan  mempengaruhi  besar responnya dalam bentuk amplitudo (simpangan). Beban yang diberikan juga akan mempengaruhi kelenturan otot yang diujicobakan. Beban akan menarik otot lebih besar, maka ketika otot tersebut dirangsang dengan aliran listrik akan menghasilkan simpangan gerak amplitudo yang kecil pula (Ganong, 1995).

Otot dapat berkontraksi baik secara isometrik, isotonik, atau gabungan keduanya. Kontraksi isometrik pada otot gastronekmus memiliki lama kontraksi kira-kira 1/30 detik. Lama kontraksi disesuaikan dengan fungsi masing-masing otot. Otot gastroknemus harus berkontraksi dengan kecepatan yang cukup pada pergerakan tungkai untuk berlari atau melompat. Otot gastroknemus memiliki serabut cepat yang disesuaikan untuk kontraksi otot yang sangat cepat dan kuat seperti  berlari  dan  melompat.  Serabut  ini  tampak  lebih  besar.  Retikulum sarkoplasmanya lebih luas sehingga dengan cepat dapat melepaskan ion-ion kalsium untuk memulai kontraksi otot (Guyton, 1995).

Mekanisme kontraksi otot dapat dijelaskan dengan model pergeseran filamen  (filamen-filamen tebal  dan  tipis yang  saling  bergeser saat proses kontraksi), model pergeseran filamen (filamen sliding). Model ini menyatakan bahwa gaya berkontraksi otot dihasilkan oleh suatu proses yang membuat beberapa set filamen  tebal dan tipis dapat bergeser antar sesamanya. Menuruut Guyton (1995), menyatakan pada saat kontraksi filamen aktin tidak tertarik ke dalam filamen miosin sehingga overlap satu sama lainnya secara luas. Discus Z
ditarik oleh filamen aktin sampai ke ujung filamen miosin. Jadi kontraksi otot terjadi karena mekanisme pergeseran filamen yang disebabkan oleh kekuatan mekanisme kimia atau elektrostatik yang ditimbulkan oleh interaksi jembatan penyebrangan dari filamen miosin dan filamen aktin.

Menurut Prosser (1961), mekanisme kontraksi otot menurun yaitu ketika otot berkontraksi menggunakan O2 dan melepaskan CO2 sedangkan glikogen dikurangi, asam laktat berkumpul dan panas diproduksi. Aktin dan miosin bergabung dalam bentuk globular yang merupakan kopula dari molekul miosin. Molekul miosin terdiri atas bagian pengikatan aktin dan ATPase, tidak adanya aktin menyebabkan tidak reaktifnya ATPase ketika miosin berikatan dengan aktin akan  membentuk  aktomiosin  ATP.  Sel  otot  juga  terdiri  atas  retikulum sarkoplasmik  hampir  sama  dengan  retikulum  yang  sangat  penting  dalam kontraksi. Retikulum endoplasma akan mengikat ion Ca dan berhenti ketika asam laktat terakumulasi.

Ketika otot rangka sedang beristirahat atau relaksasi akhirnya kebutuhan akan oksigen merupakan ukuran dari metabolisme otot dan hal ini dipengaruhi oleh temperatur lingkungan, temperatur tubuh, aliran pembuluh darah dan nutrisi. Pengaruh dari penyempitan pembuluh darah menyebabkan kandungan oksigen di jaringan berkurang sehingga berpengaruh terhadap konsumsi oksigen oleh mitokondria. Oleh karena itu, konsumsi oksigen dapat menentukan ukuran berkurangnya titik jenuh oksigen dari hemoglobin dan myoglobin mengikuti
keadaan total arteri (Abozguia, 2008).



Frandson (1992), menyatakan bahwa adanya kontraksi otot dipengaruhi
beberapa faktor, yaitu :
1.Treppe
Treppe adalah meningkatnya kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu
serabut otot karena stimulasi berurutan yang berseling beberapa detik.
Kekuatan kontraksi terus meningkat sampai kira-kira 30 kontraksi. Pengaruh
ini mungkin disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi ion Ca++
di dalam  serabut otot yang meningkatkan pula aktivitas miofibril. Treppe umumnya
dianggap sebagai gejala pemanasan dimana suatu otot yang istirahat
menyusun  suatu  kontraksi  yang  lebih  kuat  mencapai  kemampuan
maksimumnya dengan berulangnya stimulasi pada frekuensi optimal.
2.Summasi
Summasi merupakan hasil penjumlahan kontraksi dua jalan, yaitu dapat
berupa  summasi  unit  motor  berganda  dan  summasi  bergelombang.
Summasi unit motor berganda terjadi apabila lebih banyak unit motor yang
dirangsang  untuk  berkontraksi  secara  simultan  pada  otot,  sedangkan
summasi berulang terjadi apabila frekuensi stimulasi ditingkatkan kepada
unit-unit motor.
3. Tetani (tetanus)
Tetani terjadi apabila frekuensi stimulasi menjadi demikian cepat sehingga
tidak ada peningkatan frekuensi lebih jauh lagi yang akan meningkatkan
tegangan kontraksi, tenaga terbesar yang dapat dicapai oleh otot telah
tercapai.
4.Fatigue
Fatigue  yaitu  menurunnya  kapasitas  bekerja  yang  disebabkan  oleh
pekerjaan itu sendiri. Jangka waktu bahwa suatu tegangan atau kontraksi
otot dapat tetap dipertahankan tergantung pada tersedianya suplai energi
dalam bentuk ATP dan kalsium bagi filamen protein kontraktil.
5.Rigor dan Rigor Mortis
Kejadian tersebut terjadi apabila sebagian besar ATP di dalam otot telah
dihabiskan  kalsium  dan  tidak  dapat  dikembalikan  ke  dalam  retikulum
sarkoplasma melalui mekanisme pemompaan kalsium, oleh karena itu
relaksasi tidak dapat terjadi karena filamen aktin dan miosin terikat dalam
suatu ikatan yang erat.

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat diambil beberapa kesimpulan
sebagai berikut:
1.Otot gastroknemus dapat berkontraksi dengan adanya rangsangan dari
tegangan listrik.
2. Otot jantung termasuk otot seran lintang yang sifatnya involuntari yang
artinya kerjanya tidak dipengaruhi oleh otak.
3.Voltase yang diberikan terhadap otot akan mempengaruhi besarnya
respon dalam bentuk amplitudo.